Logo Inspirasi.mu

Inspirasi.mu

Masuk
Kembali ke Berita

Kepala Madrasah Muhammadiyah Didorong Keluar dari Zona Nyaman dan Jadi Penggerak Perubahan

Oleh: admin·26 September 2026
Kepala Madrasah Muhammadiyah Didorong Keluar dari Zona Nyaman dan Jadi Penggerak Perubahan

KARANGANYAR — Kepala madrasah Muhammadiyah tidak cukup hanya piawai mengelola administrasi. Di tengah perubahan dunia pendidikan yang semakin cepat, kepala madrasah dituntut tampil sebagai pemimpin perubahan yang mampu membaca peluang, membangun jejaring, melahirkan inovasi, serta menemukan keunggulan khas madrasah.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah sekaligus Direktur Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen, Dr. Iwan Junaedi, M.Pd., saat membuka Pendidikan Khusus Kepala Madrasah (Diksuskamad) Region Jawa Tengah 1 di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis (24/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung pada 24–27 September 2026 tersebut diikuti 231 kepala madrasah Muhammadiyah dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Tengah. Diksuskamad mengusung tema “Menguatkan Mutu untuk Mewujudkan Madrasah Muhammadiyah Unggul Berwawasan Global.”

Kepala Madrasah Harus Berani Berinovasi

Iwan mengatakan, tantangan pendidikan ke depan semakin kompleks. Kondisi tersebut menuntut kepala madrasah memiliki keberanian untuk mengambil inisiatif, membaca kebutuhan masyarakat, serta mengembangkan potensi lembaga tanpa harus selalu menunggu instruksi.

“Melalui kegiatan Diksuskamad ini kami berharap para kepala madrasah harus pandai-pandai mencari terobosan kreatif. Jangan hanya menunggu instruksi atau fasilitas datang, melainkan harus proaktif menjalin jejaring dan mengembangkan potensi lembaganya,” tegas Iwan.

Menurutnya, madrasah Muhammadiyah memiliki sejarah panjang dalam memberikan kontribusi bagi pendidikan bangsa. Karena itu, kekuatan internal perlu dipadukan dengan kolaborasi yang lebih luas.

Kepala madrasah, lanjut Iwan, perlu membangun jejaring dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat, serta berbagai unsur dalam jaringan pendidikan Muhammadiyah.

“Madrasah tidak bisa berjalan sendiri. Jejaring dan kolaborasi harus menjadi bagian dari strategi untuk memperkuat lembaga,” ujarnya.

Identitas Kuat, Wawasan Global

Selain kepemimpinan, Iwan menekankan pentingnya memperkuat identitas madrasah Muhammadiyah melalui kurikulum yang berpijak pada nilai-nilai Keislaman dan Kemuhammadiyahan.

Menurutnya, identitas tersebut bukan sekadar simbol, melainkan harus hadir dalam proses pembelajaran, budaya sekolah atau madrasah, serta berbagai program yang dijalankan.

“Madrasah Muhammadiyah harus memiliki identitas yang kuat sekaligus wawasan global. Nilai-nilai Keislaman dan Kemuhammadiyahan jangan hanya menjadi slogan, tetapi harus hadir dalam proses pembelajaran dan budaya sekolah atau madrasah,” ujarnya.

Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, kata Iwan, terus mendorong tersedianya perangkat dan sumber belajar yang mendukung arah tersebut. Salah satunya melalui penerbitan buku pelajaran berbasis nilai Islam dan Kemuhammadiyahan dalam format dwibahasa atau bilingual.

Ia juga menekankan sedikitnya empat kompetensi yang perlu dimiliki kepala madrasah, yakni kompetensi akademik, sosial, kepribadian, dan kewirausahaan. Keempatnya diperlukan agar kepala madrasah mampu mengelola lembaga secara profesional sekaligus mampu membaca peluang dan mengembangkan potensi madrasah.

Temukan Keunggulan Khas Madrasah

Di tengah semakin beragamnya pilihan pendidikan bagi masyarakat, Iwan mendorong setiap madrasah Muhammadiyah untuk menemukan keunggulan yang menjadi ciri khas masing-masing.

Keunggulan tersebut tidak harus seragam. Setiap madrasah dapat mengembangkannya berdasarkan potensi, karakter lingkungan, sumber daya, serta kebutuhan masyarakat di sekitarnya.

“Kepala madrasah harus mampu menemukan dan menonjolkan keunggulan spesifik madrasahnya. Bisa berupa prestasi akademik, karakter peserta didik, program keislaman, budaya sekolah, kewirausahaan, teknologi, maupun kearifan lokal,” jelasnya.

Menurut Iwan, keunggulan yang telah ditemukan perlu dikelola secara konsisten sehingga menjadi identitas yang dikenal oleh masyarakat.

Karena itu, ia meminta peserta Diksuskamad tidak berhenti pada pemahaman yang diperoleh selama pelatihan. Setiap gagasan harus diterjemahkan menjadi program nyata ketika kembali ke madrasah masing-masing.

“Setelah selesai mengikuti Diksuskamad ini, para peserta tidak boleh pulang dengan tangan kosong. Mereka harus mampu merumuskan dan menonjolkan keunggulan-keunggulan spesifik di masing-masing madrasahnya,” pesan Iwan.

Kemenag Siap Perkuat Sinergi

Apresiasi terhadap pelaksanaan Diksuskamad disampaikan Kepala Bidang Pendidikan Madrasah (Penma) Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Amin Handoyo, Lc., M.Ag., yang hadir mewakili Kepala Kanwil Kemenag Jawa Tengah.

Amin menilai penguatan kapasitas kepala madrasah yang dilakukan Majelis Dikdasmen dan PNF Muhammadiyah memiliki keterkaitan dengan agenda Kementerian Agama dalam memperkuat mutu dan tata kelola madrasah.

“Kami memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan Diksuskamad Muhammadiyah ini. Apa yang dilakukan Majelis Dikdasmen sangat sejalan dengan visi dan misi Kementerian Agama dalam upaya akselerasi peningkatan mutu, tata kelola, dan kualitas madrasah,” ungkap Amin.

Ia juga menyampaikan kesiapan Kemenag Jawa Tengah untuk memperkuat komunikasi dan kerja sama dengan madrasah Muhammadiyah.

Menurutnya, keberadaan madrasah Muhammadiyah dengan jumlah dan potensi yang besar merupakan bagian penting dalam ekosistem pendidikan Islam di Jawa Tengah.

Dari Pelatihan Menuju Gerakan Perubahan

Ketua Duta Madrasah Muhammadiyah, Marjianti, menjelaskan bahwa Diksuskamad dirancang sebagai pembekalan terpadu bagi kepala madrasah agar memiliki visi kepemimpinan yang progresif, inovatif, dan berorientasi pada prestasi.

“Diksuskamad diarahkan untuk melahirkan kepala madrasah yang progresif, madrasah yang berprestasi, dan peserta didik yang unggul di berbagai bidang,” katanya.

Usai mengikuti kegiatan, peserta diarahkan menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang dapat diterapkan di madrasah masing-masing. Salah satu fokusnya adalah menyusun strategi Penerimaan Murid Baru (PMB) secara terukur, sekaligus memperkuat mutu tata kelola dan manajemen madrasah.

Dengan demikian, Diksuskamad tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan kepala madrasah. Program ini diarahkan menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas untuk memperkuat kepemimpinan, mutu, dan daya saing madrasah Muhammadiyah.

Sebanyak 231 kepala madrasah yang mengikuti Diksuskamad Region Jawa Tengah 1 diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan di wilayah masing-masing.

Dari Karanganyar, gagasan tentang madrasah yang unggul dan berwawasan global tidak berhenti di ruang pelatihan. Gagasan itu dibawa pulang untuk diterjemahkan menjadi program, inovasi, kolaborasi, dan kerja nyata di setiap madrasah Muhammadiyah.

Rekomendasi Berita Lainnya